Senin, 11 Januari 2021

New Year's Day : Borneo Jungle Party

All is quiet on New Years’s Day, a world in white gets underway. I want to be with you, be with you night and day. Nothing changes on new year day. On new year day….. Suara sexy Bono U2 seketika membangunkan ingatan saya kala merayakan tahun baru paling ajaib dalam sejarah hidup saya. Bukannya mencari keramaian tetapi malah mendatangi kesunyian di tengah hutan hujan tropis Kalimantan beberapa tahun yang lalu. Membelah belantara Borneo di malam tahun baru itu sesuatu banget……

Sebenarnya tidak ada niatan sama sekali buat tahun baruan di hutan karena liburan akhir tahun itu hanya pengen cabut ke sembarang tempat tanpa tujuan. Sampai ada tawaran open trip ke Tanjung Puting dan langsung saya iyain aja tanpa ekspetasi apapun. Yang penting cabut dari Jogja dan melupakan urusan kerjaan barang sejenak. Dan ternyata malah seru banget bisa kedampar di tengah hutan Borneo tempat konservasi orang utan, bekantan dan primata lainnya. Temen travellingku kali ini juga manusia-manusia langka tapi nyata dari berbagai belahan dunia. Ciyuss, rombongan kami ada anak Polandia, Amerika dan anak Indo yang lagi kuliah di Canada yang semuanya hobi berpetualang tentu saja.

Kami menumpang kapal klotok dari Pelabuhan Kumai menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Kupikir pelabuhan itu letaknya di pinggir laut dengan kapal-kapal besar tertambat di sana dan siap menyebrangkan penumpang ke pulau lain, ehmm ternyata pelabuhan itu letaknya bukan di laut tapi di sungai Kumai. Tapi yang namanya sungai di Kalimantan, gedenya bukan maen sampai bisa dilayari oleh kapal klotok, kapal tradisional yang terbuat dari kayu dan menjadi salah satu moda transportasi air andalan di sana. 

Kapasitas penumpang kapal ini hingga 20 orang dengan fasilitas tempat tidur lesehan, kamar mandi, serta restoran yang dikemas dalam bentuk sederhana. Tapi meskipun semua serba terbatas namun menginap di atas kapal klotok merupakan pengalaman istimewa, tak kalah dengan nikmatnya hotel bintang lima. View kamarnya luar biasa kece karena langsung bersentuhan dengan hutan beserta seluruh habitat yang menghuninya. Penuh teriakan bekantan, tarsius, dan monyet-monyet mungil yang asyik bercanda dengan sesamanya. Selain itu kita bisa kecipak cipik maen air saking deketnya kapal dengan sungai. Kalo kamu punya nyali bisa kasih makan buaya yang hidup diam-diam di bawah kapal kami. Ihhh kok serem ya...Ngebayangin kami hidup di atas rumah buaya hihihi  Kegiatan kami selama di kapal udah pasti asyik ngobrol sana sini saling menceritakan pengalaman travelling kami dan menyusun rencana travelling berikutnya sambal menyantap cemilan yang berlimpah ruah kayak supermarket. Lha wong barusan ketemu di kapal kok sudah sok akrab dan langsung mau bikin rencana jalan ke Mentawai. Dasar anak-anak ilang…..


Bekantan Show
Kapal kami menyusuri sungai Kumai selama kurang lebih 2 jam sebelum akhirnya memasuki camp orang hutan pertama di Pondok Tanguy. Kedatangan kami disambut surprise meriah dari seekor orang utan gede banget yang tiba-tiba meloncat ke kapal kami. Namanya Alfa. Dengan Gerakan ekstra cepat Alfa membereskan sekeranjang buah-buahan di kapal kami. Ohhhh untungnya cuman ambil buah-buahan ya.. coba kalo saya yang diambil dan dilarikan ke dalam hutan.

Alfa - the king of orang utan

Turun dari kapal kami trekking masuk ke hutan untuk melihat feeding time orang utan yang tinggal di Pondok Tanguy. Rimba belantara Kalimantan memang mantap buat dijelajahi. Gelap dan sunyi. Banyak nyamuk lagi. Hutan hujan tropis menyebabkan tingginya curah hujan di dalam hutan sehingga kami sempat basah-basahan diguyur air hujan selama kami nonton feeding time. Orang utan sendiri merupakan bangsa kera besar sejenis simpanse dan gorilla yang bisa hidup di pepohonan dengan membuat sarang dari dedaunan. 

Termasuk binatang omnivora alias pemakan segalanya seperti manusia. Namun makan buah-buahan seperti pisang masih menjadi favoritnya. Terbukti tiap hari minta disuplai pisang berkarung-karung dan selalu dilahap dengan sempurna. Si ibu orang utan datang mengambil jatah pisang sendirian aja sementara anak-anak nunggu di rumah sambil menyiapkan kompor, wajan dan minyak goreng buat menggoreng pisang buat makan siang. Orang utan itu penganut aliran soliter alias suka jalan sendirian sehingga jarang banget ditemukan mereka jalan bergerombol, paling-paling kita hanya menemukan ibu dan anak atau kakak beradik yang tengah asyik mencari kutu rambut.


camp leakey


Kami kembali ke kapal klotok ketika matahari hampir tenggelam. Ngobrol lagi seputar rencana tahun baruan nanti malam sambil menyeruput teh hijau dan menikmati pisang goreng hangat…duhhh… ini membuktikan kita dan orang utan adalah sodara sebangsa dan setanah air yang memiliki selera makan sama hihihi Kok ya kebetulan banget hari ini tanggal 31 Desember alias penghujung tahun, harusnya kami pesta terompet dan kembang api. Tapi karena sekarang kami sedang berlayar menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan sehingga tak mungkinlah kami pesta pesta seperti biasanya..Harus dibuat luar biasa ini. 

Jadi malam itu kami berkumpul mengelilingi meja makan bundar kesayangan kami menikmati makan malam dengan hidangan ala Chef Iman, terus  satu persatu dari kami cerita tentang resolusi di tahun baru. Resolusi resolusi kagak jelas yang pada ujungnya menimbulkan kontroversi dan gelak tawa di antara kami. Ketika lagi ketawa tak ada ujungnya itu tiba-tiba ada cahaya berkelap-kelip di pinggiran sungai. Ribuan kunang-kunang bersinar di antara rimbun pohon nipah di sekitar kami. What a damn beautiful light! Dan spontan kami nyanyi Fireflies-Owl City and cheers for the New Year dear friends.....

You would not believe your eyes if ten million fireflies

Lit up the world as I fell asleep

Cause they fill the open air and leave teardrop everywhere

You’d think me rude but I would just stand and stare…………..

I'd like to make myself believe that planet earth turns slowly

It's hard to say that I'd rather stay awake when I'm a sleep

Cause everything is never as it seems...........


Happy New Year







 

 

 

 

 

 

Sabtu, 09 Januari 2021

Under Lapopu and Waimarang Falls

 

There’s no better place to find yourself than sitting in a waterfall and listening to it’s music….. Setuju banget dengan quote kece Roland R Kemler tentang air terjun yang merupakan landscape favorit saya se-alam raya. Air terjun tidak pernah gagal membuat hati saya tentram dan pikiran menjadi jernih kembali setelah mendengar suara gemericik air berjatuhan ke bumi. Dan untuk urusan air terjun cantik, Sumba adalah juaranya. Banyak air terjun super keren terbentang dari barat ke timur sepanjang pulau eksotis bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut.

Siang itu kami tiba di air terjun Lapopu selepas menempuh perjalanan selama 1 jam dari kota Waikabubak, Sumba Barat Daya. Sekedar info, kami masuk pulau Sumba melalui bandara Tambolaka di kota Waikabubak dan sempat istirahat sehari di sana sembari mengumpulkan energi untuk persiapan eksplorasi so many waterfall, soooo many beautiful beach, people, culture, and other beautiful things selama dua hari ke depan.

Lapopu merupakan bagian dari Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di kota Sumba Barat. Hmmm… saya demen banget maen ke taman nasional yang berhubungan ama dunia kehutanan. Pasti harus masuk hutan dengan jalur trekking menantang adrenalin. Red riding hood, lets go into the wood…… Hutan di Manupeu Tanah Daru termasuk perwakilan hutan musim semi peluruh dataran rendah dengan keanekaragaman hayati bernilai tinggi seperti cemara gunung, cemara hutan, jambu hutan, kemiri dan asam. Jadinya sepanjang jalan menuju air terjun, saya mengamati pepohonan di sekeliling sambil berharap ada asam jatuh yang bisa diemut buat permen. Jalur trekking di hutan ini ternyata cukup pendek dan kurang menantang karena hanya butuh waktu 15 menit saja untuk sampe ke salah satu air terjun favorit di tanah Humba.

Bahagianyaaaa ketika melihat penampakan Lapopu, air terjun berundak dari tebing curam ketinggian 90 meter dengan air super duper jernih dan dinginnnn. Brrrrrrrr…. Kok dingin yaa… pengen nyemplung takut beku. Alhasil saya menganut quote Roland Kemler sajalah. Duduk di bebatuan memandangi air berjatuhan dan mendengarkan keindahan simpony alam. Nyesss…. Sesederhana itu menemukan kedamaian hati.

The next waterfall terletak di Sumba Timur, 2 jam dari kota Waingapu dengan nama pake Wai wai juga… yaitu air terjun Waimarang. Dalam Bahasa Sumba, wai artinya air. Ohh pantesan banyak wisata air namanya pakai kata wai…  waimarang… waikelo.. waikuri….. Dan air terjun kedua ini lebih amazing, seperti masuk ke dunia lain… magissssss…… Sumpah, bingung saya melihat landscape di kiri kanan. Ini di mana yaaa… apakah kami tersesat? Somewhere in Tanzania…. tersesat di gurun kering kerontang maha luas. Tak ada rumah, tak ada pepohonan sama sekali. Ini kalo kebelet pipis gimana ya…. *mikir*  Sempat kepikiran juga pengen bikin video clip di sini pake lagu lawas Keane. Somewhere only we know. Tempat rahasia kita, say….. Temui aku di sini duhai kanda Nicolas Saputra…. And if you have a minute, why don’t we go… Talk about it somewhere only we know….. This could be the end of everything. So why don’t we go….. Somewhere only we know….. Somewhere only we know……

Menuju Waimarang ternyata membutuhkan perjuangan cukup berat karena jalur trekking ngeri ngeri sedap seperti misi mencari harta karun tersembunyi di perut bumi. The hidden Waimarang must be found soon! Mari kita masuk ke hutan lagi, nyebrang sungai dan menyusuri tebing curam demi menggapai Waimarang. Lumayan ekstrim dan menantang adrenalin beneran ini. Tapi demi harta karun itu kami menembus hutan pada suatu hari di bulan September ditemani daun-daun yang mulai menguning dan memerah menandai datangnya musim gugur. Kalo di Lapopu ada jembatan bambu buat nyebrang sehingga tidak perlu basah-basahan, yang kedua ini beneran harus nyemplung sungai. Udah deh pasrah aja nyebrang sungai dalam hutan liar dan gelap banget sehingga semakin kerasa magis-nya. Moga aja tidak bertemu penampakan menyeramkan ya… Yang paling bikin nangis ketika saya harus merayap tebing curam. Duhhh… saya bukan cicak cicak di dinding… bukan pula spiderman…. Menahan keseimbangan dengan merayap tebing biar gak kecebur sungai itu merupakan siksaan berat…. Helppp meee… somebody help me…….

Dan tak ada hasil yang mengkhianati usaha. Kelelahan dan ketakutan amblas seketika melihat penampakan air terjun mungil namun kokoh dan begitu elegan dengan kolam alami warna tosca di bawahnya. The hidden Waimarang is finally found! And….. There’s a hidden message in every waterfall. It says, if you’re flexible, falling will not hurt you…… ahhhhh…. Yuk kita belajar falsafah dari air terjun ya…. Jatuh dalam kehidupan itu biasa aja, tidak akan sakit jika kamu fleksibel, ikuti aja jalan takdirmu. Lahh kok mendadak bijak gini ya hihihihi…  Memang tempat ini membawa aura magic and wise. Tenang.. Kalem… Jadi pengen yoga di sini euy…. Mari kita duduk sejenak dalam posisi lotus di pinggiran air terjun dengan cahaya nan remang-remang dan temukan kedamaian dalam jiwamu. Pejamkan mata, rasakan sakitmu, take a breath…. relax…. take it easy…. Hear the water falls.....

wonderful waimarang



 

 

Selasa, 14 April 2020

Hello Sumba.....

somewhere in sumba...
Humba Ailuluuuuuu... I'm coming! Begitulah ekspresi kegembiraan saya begitu mendarat di bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya setelah melewati hari yang cukup panjang dan melelahkan. Udah tahu sendiri kan kalo ngejar pesawat paling pagi itu butuh perjuangan plus kesiapan mental untuk sigap menghadapi segala cobaan. Mulai dari packing barang yang harus siap sehari sebelumnya, nyari sopir siap antar ke bandara, nyiapin makanan dan cemilan siap saji, gak boleh begadang dan tentunya bangun pagi sebelum ayam berkokok. Ealahh ternyata sampe bandara pesawat dari Jogja ke Bali malah delay. Bikin ketar ketir dong ya...apalagi  nanti kan mesti transit di Denpasar trus nyambung pesawat lagi ke Sumba. Kalo ketinggalan pesawat mampus-lah awak... 


before sunset

Ketika pesawat mencium landasan bandara Ngurah Rai, rasanya pengen terbang ke terminal berikutnya apalagi kuping saya mendengar nama saya..... last call for passanger Ard...... weeeksss... beneran ini mau ditinggal... haduhhhh.... untung petugasnya baik... gak pake cek in saya langsung diseret masuk ke departure terminal dan selamatlah saya karena pilotnya masih santai menunggu kedatangan saya sambil manasin mesin pesawat... thanks God!!

Nusa Tenggara Timur memang istimewa di hati saya... Baru setahun lalu saya mengunjungi provinsi super eksotis ini tapi selalu ada rindu yang membuatku ingin kembali. Rindu itu harus terbayar tuntas di tanah Sumba saat ini juga.... 😄 Apalagi ada kabar kalo si Nicolas Saputra lagi liburan di Nihi Watu, resort horang kaya itu, sapa tau saya bisa menyapa salah satu makluk terindah di muka bumi ini dan menjadi semacam muse atau wanita yang menginspirasi karya fotografinya itu... halahhh... haluuuu....

Walopun koper saya masih tertinggal di Denpasar gara-gara insiden pesawat telat ituh tapi the show must go on.... Setelah cek in hotel, kita langsung cabut ke pusat budaya Sumba plus ngejar sunset di  pantai Manangaaba berbekal outfit seadanya... Harap maklum ya klo saya ke pantai pake celana jeans panjang gitu karena memang hanya baju ini satu-satunya yang tersisa. Semoga kopernya lekas kembali sehingga besok saya tidak mati gaya. Biar salah kostum tapi untungnya pak Yongki, sang fotografer mampu mengambil gambar saya dengan begitu cantiknya.  Sukaaaa banget foto ini... Seperti sebuah postcard ya.... postcard from heaven...... lalalalala... lalalala.....


Lost in Manangaaba


Minggu, 24 Juni 2018

Padar : Another Day in Paradise........


sunrise sunrise.....
It's a paraaaaaaaaaa..... paraaaaaaaa.... paradise..... Paraaaaa.... paraaaa..... Paradise..... Tak ada kata lain yang bisa terucap ketika sukses muncak  di dataran tertinggi Padar selain para.... paraaaaa.... paraaaaaa..... paradise.... paraaaaaaaaaaa....... saking cantiknya pemandangan dari view teratas di pulau purba yang merupakan hunian favorit komodo di masa lampau. Gak heran kalo kita merelakan diri ber-hiking ria selama kurang lebih satu jam melewati dataran super terjal dengan kemiringan ekstrim demi menikmati sekeping surga di tengah savana. Bayangkanlah, dari puncak sana kita bisa menyaksikan tiga pantai dengan tiga warna pasir yang berbeda yaitu pasir hitam, putih dan pink. Wow..... Dan mengalunlah lagunya Coldplay yang paling epik itu.... It's a paraaaa - paraaaa - paradise....
another day in ancient paradise

Pulau Padar menjadi salah satu destinasi favorit karena memang Instagramable banget. Liat aja postingan di situs itu yang sering menampilkan kecantikan Padar dari puncak. Dan bahkan seorang Valentino Rossi aja nyempetin diri selfie di sana demi mengabadikan momen terindah dalam hidupnya Jadi nggak usah malu kalo kita akhirnya ikutan norak banget doing selfie and wefie moment dengan durasi waktu yang tak terbatas. Setiap naik selangkah cekrek..selangkah lagi cekrek dan cekrek terus sesukanya demi memuaskan hasrat selfie akibat melihat pemandangan se-jelita ini. 

Landed on Mars

Walaupun dari bawah udah nempel-nempel si David biar kelihatan terus di video Pesona Indonesia tapi akhirnya anak itu ilang juga saking liarnya dia kalau diumbar di alam. He's such a beautiful Tarzan di era modern dengan stylish keren tapi dalemnya super wild hihihi Di pucuk Padar malah sukses nyamperin si Riyanni Djangkaru yang lincahnya kayak kelinci. Wajahnya tuh ceria dan senyum terus meskipun napas ngos-ngosan mendaki dengan kemiringan ekstrim.  Nggak heran kalo mbak satu ini emang maha guru bagi para petualang cewek karena udah sukses keliling Indonesia dan udah merambah ke dunia raya. Apa resepnya punya tenaga ekstra ketika mendaki gunung dengan wajah tetep ceria gitu sih mbak? Rahasianya itu melakukan semua pekerjaan dengan penuh cinta dan tetap tersenyum dalam kondisi apapun. Ya iyalah gimana enggak cinta lha wong kerjaannya traveling, gratis, tidak membayar apapun dan bahkan dibayar. Aku juga mau banget mbak..... Walopun mungkin hanya sekali ini bisa trip dibayarin Kemenpar tapi paling nggak udah tertular energi positif dari mbak Riyanni. At least bisa keliatan ceria di puncak Padar.......... cheeerrssssss.............

women on top

Selasa, 20 Juni 2017

From Rinca with Love


welcome to the land of komodo dragon
Seperti sebuah mimpi di siang bolong ketika kapal Komodo Jaya merapat di pulau Rinca saat matahari tepat di atas kepala kami. Panas banget gini kita semangat dan niat hiking kelililing pulau demi perjumpaan dengan komodo yang sekian lama telah kita rindukan. Hewan reptilia terbesar di dunia tersebut memang cukup mempesona sehingga banyak orang yang penasaran pengen bertemu dengannya. Bahkan sempat masuk nominasi The New Seven Wonder saking uniknya habitat penghuni pulau yang terletak di tengah selat Molo di kawasan Kepulauan Komodo ini. Termasuk saya yang sudah kepincut dengan kepulauan ini sejak tahun 2009 di mana waktu itu salah seorang teman saya  liputan ke Komodo sebagai promosi kejaiban dunia baru. I have to go there someday.... and someday will be today.... Yayyy !!!! 

when we met komodo
Konon kabarnya, spesies komodo hanya berjumlah sekitar 2500 ekor saat ini yang tersebar di pulau Rinca, Komodo, Gili Motang dan Padar. Kelangkaan spesies inilah yang menyebabkan kepulauan Komodo menjadi kawasan konservasi pemerintah yang mendapatkan perhatian khusus dari ilmuwan di seluruh penjuru dunia. Gimana gak spesial? hanya di kawasan inilah hewan yang masih se-nenek moyang dengan dinosaurus, thyranosaurus dan saurus-saurus lainnya inilah bisa bertahan hidup dan berkembang biak dengan baik.

Baby, hear they come... crawling out..... Crawling out under the house.... awww.... komodo-komodo itu akhirnya keluar dari sarangnya ketika rombongan kami memasuki konservasi paling keren se-indonesia raya. Nggak terlalu besar tapi tetep aja seram apalagi auranya itu kayak makluk berdarah dingin yang siap menerkam mangsa-nya kapan ajah. Mereka hanya diam membisu seperti patung saat kami mendekat untuk mengabadikannya. Beneran kayak patung.... Standing so calm and still..... 

standing still

Beda dengan komodo-komodo kalem itu, yang nonton malah kelihatan norak karena meluapkan kegembiraan yang tiada tara. Selama ini kita kan hanya liat komodo lewat National Geographic, begitu dapat kesempatan melihat dengan mata kepala sendiri kita jadi overload gini tingkahnya kayak anak SD hihihi Dan saya bukannya berusaha mengabadikan momen perjumpaan komodo itu tapi malah geli liat polah si David yang gayanya udah mirip Tarzan ituh. Beneran hiburan yang jauh lebih menarik ketimbang si komo - so cool and calm itu. Walo kalem tapi kita diharapkan agar tetap waspada jangan sampe membuat pergerakan yang mencurigakan. Bisa-bisa si komo ngamuk berat jika ada manusia yang belagu pengen mendekatinya apalagi kalo dia seorang wanita yang lagi dalam masa menstruasinya. Bau darah akan membuat komodo bergairah ingin memangsamu. Be careful anyway......

most beautiful Rinca


autumn in Rinca
Pulau Rinca tak sekedar komodo tetapi sepanjang mata memandang kita akan dimanjakan dengan keeksotisan alam timur dengan sabana dan stepa nan mempesona. Apalagi ketika itu sepertinya sedang musim gugur saat daun-daun mulai menguning dan menggugurkan diri. Dan walo hiking siang-siang bolong kita sungguh sangat menikmatinya. Berjalan menyusuri hutan dengan vegetasi yang mulai berguguran di sepanjang jalan menimbulkan sensasi romantisme ala-ala musim gugur. Such as autumn in Rinca. And I really loveeeee it.......

the color of autumn
Apalagi ketika udah sampe di puncak bukit Rinca. We just said woww.... Just wowwww....... Nampak lautan di bawah sana dalam naungan gunung-gunung liar nan gersang bagaikan tersesat di dunia lain. Beneran ini kayak di film The Lost World. Dan kita langsung ambil gambar buat video promosi pesona Indonesia. Kabarnya bakalan tayang di New York sebentar lagi. awww... awww..... semangat-semangat pasang muka ceria dan dadah dadah ke drone di atas sana. What a wonderful and unforgettable journey.......  


We love you, Rinca..... cheeeseeeeee........

 
     

Rabu, 18 Januari 2017

Sailing


Sailing Komodo
I am sailing.... I am sailing....
home again cross the sea....   
I am sailing... stormy waters....
to be near you.... to be free.....
oh Lord, to be near you....
to be free.......
oh my Lord, to be near you
to be free.....

Mulut saya tak hentinya mengalunkan lagu Sailing – Rod Stewart ketika kapal kami menyusuri laut Flores sore itu. Walaupun bukan ziarah spiritual tapi bagi saya setiap perjalanan membawa kesan tersendiri dan efeknya langsung masuk ke hati. Apalagi suasana laut di perairan Komodo sangat mendukung kita untuk melakukan pencarian jati diri dan bahkan mungkin pencarian terhadap Tuhan seperti kata Rod Stewart. Bayangkan aja ketika sendiri terdampar luas di lautan tanpa sadar makluk laut siap muncul kapanpun trus memangsa kita hihihi Seolah kita merasa sangat kecil di tengah angkasa dan cakrawala membentang tanpa batas.

I'm sailing...  I'm sailing... to be near you... to be free.....

before sunset
Just an hour before sunset....... Saya duduk sendirian di galangan kapal mengabadikan perubahan warna langit. Dari kelabu menjadi bersepuh kekuningan kemudian merona kuning-oranye dengan begitu magis dan megah. Deretan pulau karang di sepanjang laut turut menjadi saksi bisu ketika mentari mulai pulang kembali ke bumi. Belum pernah saya merasa sendiri dan hanya berteman dengan alam raya seperti ini. Speechlessssssss..................

Kalo saya Rod Stewart kira-kira bakalan seperti ini rasanya.....
Ku berlayar mengarungi lautan menuju kembali ke rumahmu, Tuhan
Ku berlayar mengarungi badai di lautan hanya untuk dekat denganmu
Bisakah kau dengarkan aku di malam gelap ini, nun jauh di sana
Aku begitu menginginkan dekat denganmu, Tuhan........

Tengah larut dalam sebuah perenungan sore itu tiba-tiba saya dikejutkan dengan reriuhan dalam air. Somebody come.... somebody come..... That’s manta ray!!!! OMGGGG.... How beautiful and graceful she is coming out from the sea. Pertemuan dengan makluk laut bernama Manta itu membuat hati saya makin tergetar menyadari keagungan Ilahi. Seumur hidup saya belum pernah sedekat ini dengan penghuni kerajaan lautan. She’s dancing.... She’s dancing..... She’s dancing .... Watching the manta ray’s dancing at sundown was the most unforgetable memory....   


Manta Ray's dancing

Selasa, 17 Januari 2017

From Coast to Coast



pulau bidadari
More than words can express how I feel when the first time I live on a boat.... Seumur-umur ngeliat kehidupan di laut itu cuma dalam film Popeye the Sailorman atao lewat lagu We’re livin in yellow submarine... Yellow Submarine milik The Beatles. Dan ketika mengalaminya sendiri, beneran di luar bayangan. Seneng campur puyeng-puyeng gimana gitu rasanya. Meluncur di lautan luas dengan pulau-pulau karang cantik nan eksotis di perairan Komodo merupakan sebuah kemewahan tersendiri. Walaupun badan saya sempat meriang karena menyesuaikan diri dengan iklim lautan dan angin jahat yang bertiup kencang namun saya tetap semangat menjalani kehidupan goyang-goyang seorang sailorman. Dan tak hentinya saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat pantai-pantai menawan di kawasan Indonesia timur sebelum saya  keliling dunia suatu hari nanti hehehehe

Rombongan kami menumpang kapal Komodo Jaya dan dinahkodai oleh seorang laki-laki Bajo yang asalnya dari tanah Sumba. Duhh... hati saya langsung tergetar mendengar pulau itu disebut. Daerah eksotis berkontur bukit-bukit dengan savana membentang luas di sepanjang daratan. Dia berbicara tentang keelokan tanah kelahirannya yang memiliki beragam kesenian dan kerajinan tenun super cantik dan menawan hati. Oh betapa saya ingin mengunjungi Sumba dan belajar tenun dari ibu-ibu di pulau tersebut. Namun keinginan tersebut harus ditepis dahulu karena sekarang saatnya menikmati keindahan bawah laut kepulauan Komodo beserta pantai berpasir putih, abu dan merah jambu. Aihhh.... tak sabar ingin segera menikmati keromantisan pink beach yang begitu populer itu.

D and D
Komodo jaya merapat pertama kali di pulau Bidadari yang terkenal sebagai hotspot snorkeling utama di kawasan Komodo. Mungkin bagi pecinta snorkeling, tempat ini langsung bikin gairah membuncah hihihi tapi bagi anak gunung kayak saya yang hidup di daratan melulu dan sedikit anti air bakalan nyari alternatif kesenangan lain. Hanya berani berenang di pinggiran dan bermain pasir putih cukuplah membahagiakan karena ada David si sana. Alamak.... rambutmu yang berkibar-kibar terkena hembusan angin laut itu sukses mencuri perhatian mata saya sebagai pecinta musik metal hihihi Ngebayangin kayak salah satu vokalis band metal dengan rambut indah bagaikan nyiur melambai.

Dan berhubung suasana hati David selalu gembira ketika bersentuhan dengan alam maka mudah saja mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati air bening hijau turqoise di depan kami. Such a humble and nice guy eventhough sometimes he is so childish hehehe Tak berapa lama kemudian David pamit karena kebelet pengen snorkeling dan tak tahan godaan terumbu karang dan ikan warna-warni di kerajaan neptunus. Be careful my dear.... salam buat bang Nemo dan kawan-kawan yah....
the lovely pink beach

Puas menikmati pulau Bidadari dan bertemu bidadara David kemudian kapal melanjutkan perjalanan pantai-pantai berikutnya. Hopping island kali ini sangat amat memanjakan mata cos  sepanjang laut  atmosfernya kayak jaman purba alias pada suatu masa ketika dinosaurus mengembara di muka bumi. Rangkaian pulau kecil tak berpenghuni nan kering kerontang berwarna kecoklatan menghiasi kepualauan Komodo. Entah karena kami mengunjungi tempat ini pas akhir musim kemarau sehingga tanaman mengering atau warna daerah ini asli coklatnya, saya kurang tahu. Tapi seperti imajinasi saya tentang daerah Nusa Tenggara timur itu ya kayak gini. Panas, kering, gersang namun teramat sangat eksotis. How many times I said exotic?? Hundred times maybe...tapi tempat ini memang beneran eksotissssssssssssss.......

lost in pink
Lanjut ke pulau Komodo namun tujuan kami bukan bertemu binatang langka tersebut melainkan snorkeling lagiiiiii di Pink beach. Kalo janjian ama si komo nanti aja di pulau Rinca yaa...... Dan siang terik itu mas David rela snorkeling maning sementara saya hanya duduk di pinggiran nyari kerang dan mengagumi warna pink pasirnya. Walo sebenernya gak pink-pink amat kayak di foto majalah travelling tapi lumayan lah ada rona pinky di sana. Kabarnya warna pink akibat alga warna pink yang hidup di bawah laut plus pantulan sinar matahari membuat kilau pink semakin kuat. Jadi kalo pengen liat Pink beach warnanya beneran pink ke sanalah pas siang bolong ketika matahari tepat di atas kepala.
Di Pink beach itu lagi-lagi ketemu David setelah ia puas snorkeling sesiangan itu. Dengan wajah  sumringah  ia menyapa kami yang lagi asyik wefie barengan mbak Riyanni Djangkaru. Come here join us... Come here Daveeee..... Then we took some lovely shots.....  Cheeeerrrrrssssssssssss..............................
cheeerssssssssssssss

Senin, 16 Januari 2017

All The Way to Labuan Bajo



Labuan Bajo's magical sunset
Akhirnyaa..... Pada suatu siang di pertengahan bulan Oktober kakiku menapaki bumi Labuan Bajo, tanah impian di pesisir timur Indonesia yang sudah sekian lama saya rindukan. Meski postingan super late post tapi kesan dari perjalanan itu masih membekas hingga kini sehingga kapanpun nulisnya  tidak masalah lah ya.... hehehe

Mungkin inilah perjalanan paling panjang, paling menyenangkan, paling berkesan dan paling beruntung. Such a greatttt greattt luck saya mendapatkan kesempatan mengikuti program Pesona Indonesia dari Kementrian Pariwisata. It means perjalanan ini tak hanya sekedar senang-senang doang namun juga ada misi untuk promo wisata Indonesia khususnya tanah Komodo di mata dunia. Dan kontribusi kita sebagai pengguna medsos adalah memposting foto selama bersuka ria menikmati program Sailing Komodo.  Selain itu kita juga bakalan centil-centilan syuting video buat program Pesona Indonesia. Tugas yang menarik dan amat sangat menyenangkan bukan.....    

Perjalanan panjang ini dimulai dari kota Yogya, tempat tinggal saya menuju kota Tangerang karena meeting point di bandara Soekarno Hatta. That’s why saya harus bersusah payah dahulu melahap sebagian jalan pulau Jawa menuju ke barat. Dari Jakarta, we took the first flight menuju Denpasar selama  1,5 jam. Kemudian kita transit di pulau Dewata nunggu pesawat yang akan membawa kita ke Labuan Bajo. Sembari nunggu penerbangan siang kita ngobrol di cafe bandara sambil ngecengi Lembu Wiworo Jati hihihi And what a surprise ketika tahu dia ikut dalam rombongan kita ke Komodo. Tak lama kemudian kita disamperi sama seorang cowok super ganteng berambut gondrong megah seperi Jesus. Hello.... I’m David..... Suaranya lembut sekali sangat kontras dengan wajah garang dan  bandelnya itu. Dan semenjak itulah  lagu Cant Take my eyes off of you mengalun lembut di sepanjang perjalanan dari Denpasar menuju Labuan Bajo.

one fine day in Labuan Bajo

Penerbangan 2 jam berlalu tanpa terasa karena saya berubah bagaikan satelit milik google earth yang memindai rangkaian pulau di tengah lautan maha luas dan maha biru itu. Ditambah pemandangan indah di depan saya, mas David, bikin saya nggak ingin penerbangan ini berakhir. Stay high, stay fly with you hehehe Bali menghilang disusul pulau Lombok kemudian pulau-pulau kecil yang mengitarinya sepanjang jalur Nusa Tenggara.  
three black magic women

Tiba di Labuhan Bajo sekitar pukul 1 siang kita ngumpul dengan anak-anak Pesona Indonesia di lobi bandara Komodo dan langsung jeprat-jepret gak jelas. Asli kagak ada yang kenal tapi bisa mingle dengan suka ria. Maklum aja namanya tukang jalan jadi di manapun berada kita enjoy aja sih.......  karena waktu makan siang tiba so tujuan pertama kita pastinya adalah having lunch di sebuah restoran di pinggir laut.  Nampaknya kita semua memimpikan kota pelabuhan nan cantik dan eksotis di kawasan Indonesia timur ini sehingga kita so excited banget sampe teriak-teriak gitu. It’s like falling in love at the first sight....or maybe it’s like a dream come true.... yayyyy!!!

Labuan bajo terletak di ujung barat pulau Flores yang merupakan kota pelabuhan utama sebagai pusat pelayaran melayani jalur wisata ke Kepulauan Komodo. Boleh jadi kota ini menjadi pintu gerbang utama di Nusa Tenggara Timur karena wisatawan yang menuju taman nasional komodo bakalan naik kapal dari pelabuhan tersebut. Hal paling menyenangkan dari kota ini adalah medannya yang berbukit-bukit sehingga kita bisa menyaksikan keindahan sunset dengan leluasa dari atas bukit Bajo. That’s one of the best sunset i’ve ever seen.  Selain matahari terlibat lebih gede dan  cemerlang, aura langitnya itu beneran magis dan membuat siapapun yang melihatnya seolah tersihir menyatu dengan keabadian alam.

 Dan Senin pagi itu, di kala manusia lainnya mulai sibuk beraktivitas dan berkutat dengan pekerjaaan sehari-hari, we prepare to start our journey to the west.... traaalalalalalala.... It’s a beautiful Monday. Komodo Jaya segera meluncur ke lautan dalam misi pencarian lumba-lumba dan manta ray. I’m popeye the sailorman....I’m Popeye the sailorman..... And the sailing komodo began........    

The ladies on boat