Jumat, 05 Juni 2015

The Secret Zoo


Batu Secret Zoo terletak di salah satu sudut Jatim Park 2, Batu, Malang yang menurut saya paling asyik dikunjungi. Nggak tahu kenapa dinamai secret zoo padahal tempatnya rame dan ceria-ceria gini. Mungkin binatang-binatang di dalamnya berasal dari sebuah dunia rahasia, kehidupan bawah tanah nan misterius atau hewan dari negeri antah berantah. Setidaknya dari ujung dunia di Skandinavia sono trus ngebayangin penjaga kebun binatang-nya tuh mas  Jonas Bjerre alias the zookeeper’s boy....... Dengan rasa penasaran kelas menengah, ayuk kita telusuri Batu Secret Zoo diiringi soundtrack dari Mew. Santa Ana winds bring seasickness. Zookeeper hear me out. How dare you go ? Cold in the rain .........  
pygmy marmoset and the lemur show
 
Begitu masuk Batu Secret Zoo kita langsung disambut duo Iguana Iguana imut yang lagi bobok siang. Just say hello sebentar karena gak berani ganggu jadwal istirahat mereka. Lanjut terus ke area flying lemur....ehm,lemur itu apa ya?kalo dilihat-lihat sekilas mirip monyet/mirip tikus/mirip koala. Duh bingung-bingung ngedefinisi-nya...asal jangan nuduh mirip saya aja yah....:(( Kalo dilihat bentuknya  area ini dihuni oleh bangsa primata seperti halnya Pygmy Marmoset yang merupakan salah tu monyet terkecil di dunia. Mereka bisa melompat sejauh 5 meter, lompatan yang cukup jauh bagi monyet berukuran mini. Namun mengingat hidupnya di tengah hutan tropis Amazon, tentulah ia dituntut kemampuan melompat ala tarzan untuk bertahan hidup dari satu pohon ke pohon lainnya. Aaaauoooooo.... uuuuuoooooooo........uuuuuoooooooooooooo....
Selain ketemu pygmy marmoset si super imut, saya pengen nyulik si   Koala tuh...pengen bawa dia pulang buat dipeluk-peluk di rumah.
cute koala
Aihhh   
lutunya......Setahuku koala suka makan daun eucalyptus tapi tadi siang dia lagi ngemil pisang....nggak nyangka kalo dia suka pisang,buah kesukaan saya juga.
Dari koala kita pindah menjenguk Caiman, buaya imut dari daratan Argentina. Kalo bentuknya biasa-biasa aja tapi nama Caiman itulah sepertinya familiar di kuping saya. Usut punya usut ternyata saya terkenang-kenang lagu Kings of Convenience - Cayman Islands yang sejuk banget didengar itu. Padahal sebenarnya gak ada hubungannya Caiman buaya dengan Cayman Islands di Karibia ini. Hanya pengen nyanyi-nyanyi aja aslinya.......There's a bearded man......paddling in his canoe, looks as if he hascome all the way from the Cayman Islands..........

the common Caiman from Argentina
Then dari Argentina, kita masuk ke belantara Amazon di Brazil untuk bertemu dengan Annaconda. Dengan warna hijau-hitam gitu sebenarnya kurang sangar tapi jangan tanya kalo udah menggigit mangsanya, bakalan dihajar tanpa ampun dengan bisa ular yang mematikan. Tetangga si annaconda ternyata jauh lebih gahar tampilannya. Honduran milk snake punya body gede dengan kulit merah hitam gaya gothic gitu hehehe Kirain asalnya dari Honduras namun ternyata ular berbisa ini habitat-nya malah di Costa Rica. 
honduran milk snake
 
annaconda
Next, welcome to the jungle dan bertemulah kita dengan bangsa macan penguasa hutan. Pertama liat jaguar hitam sedikit merinding soale ngebayangin kalo tiba-tiba kandang-nya dirusak dan dia kabur nyari mangsa. Lha wajahnya itu galak banget mengaum terus kayak kelaparan. Mo foto aja harus pake pendekatan extra soft biar dia nggak ngamuk-ngamuk di depan kamera xixixi tapi tetep aja dia si hitam legam tanpa senyuman..... Beralih ke kandang berikutnya si Leopard cantik siap bearaksi. Hewan ini lebih kalem ketimbang jaguar. Gak perlu jaga jarak buat motret dia. Kulit-nya bagus banget tuh kalo dijadikan mantel berbulu. Upss...bisa diprotes aktivis PETA neh.... Maappp ya.....just kidding..... 
jaguar sangar
 
the beautiful leoparad

Perjalanan berikutnya sontak bikin inget mas Jonas-Mew beneran....sudah pasti karena saya ketemu hewan-hewan yang di-metaforakan dalam Zookeper"s boy itu.

the giraffe and ostrich

You're tall just like a giraffe
You have to climb to find its head
But if there's a glitch
You're an ostrich
You've got your head in the sand
Wah seruuuuu akhirnya ketemu di batu secret zoo. Taulah kenapa dinamakan secret, karena ini pertemuan rahasia saya dengan binatang-binatang dari negara lain, dunia lain yang jauh dari kehidupan sehari-hari. So, tempat ini high recomended bagi yang pengen ketemu hewan yang selama ini cuma diimajinasikan saat denger lagu ato hanya bisa melihat ceritanya lewat National Geographic Channel doang. Dijamin puas bagaikan baru aja keliling dunia pake balon udara. Yuhuiiiiii................. 

welcome to batu secret zoo




If live is so short......



Menapaki tangga pemakaman keluarga raja-raja Imogiri seolah melakukan perjalanan menuju dunia lain di seberang langit sono. Aura mistis langsung bisa kita rasakan begitu memasuki gerbang utama pajimatan Girirejo Imogiri. Letaknya yang nun tinggi di perbukitan Merak mengharuskan pengunjungnya untuk melalui 400-an anak tangga sebelum menuju makam utama. It’s kind of stairway to heaven............ byuhhh jadi kangen lagunya Led Zeppelin yang satu itu..... And she's buying a stairway to heaven.........

Setiap pengunjung yang pengen ziarah juga
diwajibkan pake kemben bagi cewek dan busono peranakan bagi cowok. Nggak usah ribet bawa jarik dan perlengkapan lainnya karena sudah ada persewaan khusus dengan biaya sekitar 25 ribu per orang. Sewa
Lady of the stair
kain plus layanan jarikan alias memakai jarik/kain bisa dibantu oleh ibu-ibu penjaga makam. Urusan jarik menjarik juga bukan perkara mudah karena kita gak boleh sembarangan pake kain karena harus menyesuaikan pola batik plus ngiket-nya harus bener biar gak terjadi tragedi kemben melorot...upsss........ Tempat persewaannya di dekat pendopo utama di sisi kanan bangunan utama. Langsung aja menuju ke sana kalo ingin ganti busono. Tapi inget, kalo pengen berziarah kita harus dalam keadaan bersih alias lagi gak menstruasi. Kalo lagi mens gak boleh ya tengok-tengok ke makam. Lewatkan waktu duduk-duduk aja di pendopo ato narsis-an dari gapura ke gapura,dari tangga ke tangga. Seperti kisah saya siang itu yang menjelma menjadi putri tangga. Narsis abis pindah dari anak tangga satu ke tangga lain persis kayak main ular tangga hihihihi


Pemakaman Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram dari kraton Jogja dan Solo sehingga kita bisa ziarah ke makam Sri Sultan HB I hingga HB IX serta makam trah Sri Susuhan Pakubuwono dari kraton Solo. Euhm, nggak kebayang gimana ngangkut jenazahnya buat dimakamkan di tempat setinggi ini ya.... Naik tangga pake kekuatan sendiri aja sudah susahnya minta ampun apalagi kalo bawa-bawa peti jenazah. Udah gitu kalo pemakaman raja kraton Solo harus nambah extra time buat perjalanan Solo-Jogja-Imogiri sekitar 2,5 jam.

Kebetulan saya ziarah ke kompleks pemakaman yang dibangun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo ini bertepatan dengan bulan ruwah alias sebelum puasa sehingga waktu-nya pas banget. Bulan ruwah dipercayai masyarakat Jawa sebagai bulan baik terutama untuk melakukan ritual 
merti dusun/bersih desa termasuk ‘nyadran’ yang merupakan upacara bersih-bersih pemakaman.

Upacara nyadran tentunya bukan sekedar ritual sesajen belaka karena pada momen ini kita berkumpul bersama untuk mendoakan keluarga,teman,saudara,yang telah mendahului kita menghadap Illahi.
Ziarah ke makam Imogiri mengingatkan kita betapa hidup itu hanya sekejap ato istilah jawa-nya urip ki ming mampir ngombe. If live is so short..... Tiada yang kekal abadi di dunia karena semua manusia akan menghadapi kematian jika takdirnya telah tiba. If i die tommorow......I'd be alright because I believe  that after we're gone the spirit carries on...gitu sih kata Dream Theatre....tapi yang penting apabila kita ingin meninggalkan dunia dalam damai mungkin harus ingat pepatah jika gajah mati meninggalkan gading,manusia mati meninggalkan nama baik. Jadi ketika pada saatnya nanti saya dideportasi dari dunia ini kepenginnya dikenang sebagai manusia yang berkenan di hati semua orang. Tsahhhh..... 

Selamat datang di pemakaman Imogiri
       

Thanks for the memory.......


Seperti sebuah perjalanan napak tilas ketika sore itu sampailah saya di pantai Ayah yang terletak di kabupaten Kebumen. Entah karena pertama kalinya travelling setelah kepergian ayah tercinta, ato karena ada kata ‘ayah’-nya sehingga bikin kangen almarhum ayah, ato bisa jadi ingin mengenang kembali masa kecil ketika piknik keluarga bersama-sama ke pantai ini. Dan nampaknya pilihan terakhir yang mendekati benar.

Sempat mengalami de javu waktu melihat perahu-perahu nelayan yang siap melaut dengan gagah menerjang ombak dan angin pantai selatan. Ingat cerita ayah tentang betapa hebatnya nelayan-nelayan itu. Rela bertahan di tengah badai demi memberi nafkah keluarga. Bekerja keras dan penuh dedikasi tinggi untuk keluarganya. Mungkin hal inilah yang pengen diajarkan ayah saya kepada anak-anaknya. Lewat travelling kita bisa melihat atmosfir lain, mempelajari kehidupan baru, dan selalu mensyukuri apapun yang kita miliki.

Hmmm....sambil terkenang-kenang the memories of my father, saya terima tawaran naik perahu mengelilingi area sungai di sepanjang muara. Sebenarnya tujuan semula ke pantai pengen maen ombak tapi kayae gak ada salahnya mencoba menikmati suasana sungai terakhir yang bermuara di pantai selatan tersebut. Lupa nama sungai-nya apa tapi sungai ini lumayan lebar dan asyik untuk pelayaran kecil sore-sore gini. Hanya dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja kita bisa puas muter-muter sungai menikmati keindahan perbukitan di sekitarnya, hutan mangrove di pinggir pantai dan sesekali berpapasan dengan nelayan yang siap melaut.   


Menyusuri muara sungai


Pernah beberapa kali naik perahu motor di pantai Anyer dan pantai Kartini tapi gak selama ini. Kayaknya lebih setengah jam muter-muter tapi gak ada gelagat mau balik ke darat dan terus aja melaju menyusuri sungai itu. Tau gini tadi bawa gitar ya.... Menikmati senja sambil nyanyi I miss you – Incubus................

You have only been gone ten days, but already I am wasting away
I know I'll see you again.......Whether far or soon
But I need you to know, that I care
And I miss you...................................
.......

 Ato Thanks for the memory- Bob Hope & Shirley Ross........... 


Thanks for the memory
Of faults that you forgave
Of rainbows on a wave
And stockings in the basin
When a fellow needs a shave
Thank you so much.................
 
Thanks for the memory, dad.......








Sabtu, 28 Maret 2015

Once Upon A Time in China


Masih di kota semarang, hanya selemparan batu sampailah kita di klenteng sam poo koo. Dominasi warna merah langsung nampak di depan mata begitu kita masuk area tempat ibadah umat konghucu ini. Suasana negeri tirai bambu juga bisa kita rasakan di sini karena ada lapangan yang mirip-mirip Tianamen square di Beijing. Ceritanya jadi kayak Once Upon a time in China eh in Sam Poo Koo ding.... Dan sama kayak di Lawang Sewu, no story available... Those pictures tell you more.....  



the square

the place

the great pillars


the inside


the reds



the beautiful ones






Lawang Sewu : 1000 doors



Berkali-kali ke Semarang tak pernah kepikiran mampir Lawang Sewu padahal lokasine di tengah kota dan nggak jauh-jauh amat dari Simpang Lima. Okelah kalo begitu, siang itu kita bela-belain mampir di salah satu bangunan peninggalan Belanda paling masyur di kota lumpia tersebut.


Memasuki Lawang Sewu, kita langsung dipandu oleh seorang guide lokal yang bakalan nganterin kita mengelilingi bangunan kolonial ini. Saat pemandu cerita ini itu, entah mengapa kuping saya tidak konsentrasi sama sekali. Padahal biasanya saya suka sekali sejarah tapi siang itu saya lebih suka keliling bangunan sendiri tanpa perlu mengetahui sejarah Lawang Sewu. Jeprat-jepret sana sini and here’s some shots.......
 

Jadi pada intinya, lawang sewu dulunya adalah penjara jaman Belanda yang super gede karena jumlah sel penjara konon katanya ada seribu-an lebih. Sebagai penjara sekaligus tempat penyiksaan membuat bangunan ini terlihat suram dan bahkan masih menyisakan penderitaan masa lalu. Waktu saya jeprat-jepret keliling lokasi memang sempat merasakan aura seram dan bahkan nangkap  kehadiran makluk lain. Mungkin makluk itu dulunya menjalani eksekusi mati di sini....hiiii...... Terlepas dari sejarah kelamnya, bangunan ini sangat kokoh dan megah bagai kompleks gedung parlemen Eropa. Sempat kepikiran menjadikan tempat ini sebagai hotel bergaya klasik di tengah kota. Namun siapa yang berani menginap di sini kalo tahu sejarahnya? Mungkin hotel plus plus yang menyediakan paket tour uji nyali....  And i’ll be your guide..................  I’ll guide you to count the doors....... :-)



Sangiran : The Homeland of Java Man



Sepertinya asyik banget punya profesi sebagai Paleontologist kayak si Ross Geller di serial Friends yang hobinya berurusan ama fosil-fosil manusia pra sejarah plus dinosaurus dan kawan-kawan. Dan demi memuaskan hasrat terpendam sebagai paleontologist sekaligus membuktikan cerita dalam buku sejarah, akhirnya kesampaian juga cita-cita saya mengunjungi museum Sangiran, the homeland of Java man beberapa waktu lalu.

Terletak di perbukitan Kendeng, Sragen, Jawa Tengah museum ini kesannya cukup pelosok padahal aslinya akses ke sana mudah sekali dan tidak jauh-jauh amat dari kota Solo. Ambil rute ke arah Purwodadi dan ikuti saja jalan satu-satunya hingga menemukan tugu selamat datang di situs Sangiran kemudian belok kanan mengikuti petunjuk di tugu tersebut. Walo masih sekitar 3 kiloan menuju museum tapi perjalanan lumayan menyenangkan karena daerah sana masih asri dengan pepohonan di kanan kiri jalan.

Sesuai dengan tag-line museum Sangiran,the homeland of Java man begitu masuk museum ini kita disuguhi fosil tengkorak manusia purba paling beken yaitu Pithecantropus erectus, homo sapiensis, homo soloensis, homo erectus dan cro-magnon. Voila....akhirnya saya berjumpa dengan manusia cro-magnon. Dulu sering baca kisah nenek moyang para seniman yang jago bikin patung dan lukisan ini di komik apa ya.... pokoe jaman-jaman SD gitu pas lagi hobi dolan ke perpustakaan kota di deket alun-alun hihihi

Ternyata tiap manusia purba punya ciri khas tersendiri lho... Kalo cro magnon terkenal sebagai seniman,lain halnya dengan homo erectus,sang pengelana dunia. Manusia purba pertama yang mampu menyebar ke berbagai penjuru dunia dan bisa bertahan di segala musim. Sedangkan homo sapiens terkenal karena kemampuannya menciptakan peradaban dan teknologi tinggi. Coba bedakan bentuk tengkorak mereka.....  
Cro-magnon
Homo erectus
Homo sapiens
Puas menyaksikan manusia purba, saya melanjutkan rute mengunjungi koleksi fosil hewan-hewan purba yang hidup pada masa pra sejarah. Lumayan terkejut juga karena bukan dinosaurus yang saya jumpai tapi justru gajah purba sejenis stegodon dan mastodon memenuhi koleksi museum Sangiran. Gajah merupakan salah satu binatang tertua penghuni planet bumi. Dan lumayan terkejut juga kalo mastodon merupakan gajah purba karena selama ini tahunya nama sebuah grup band death metal kesayangan mas Ryan pelor. Sumpah, jadi kangen mas Ryan.....xixixi


Berkunjung ke museum Sangiran memaksa saya untuk me-rewind kembali pelajaran biologi jaman SMP pas lagi mumet-mumetnya ngapalin teori Evolusi dari Charles Darwin buat ujian semesteran. Apa yang kau ingat tentang teori Evolusi?euhm, manusia ber-evolusi dari masa ke masa. Hanya sepanjang itulah ingatan saya padahal jawabannya pasti lebih panjang dan lebar penjelasannya. Begini cerita soal evolusi...... Prinsip dasar teori darwin adalah makluk yang paling cocok dengan lingkungannya akan bertahan hidup ( survival of the fittest). Yang dapat bertahan hidup akan mempertahankan ciri-cirinya yang menguntungkan. Variasi makluk terjadi karena proses penyesuaian diri pada lingkungan yang berubah agar tetap bertahan hidup. Demikian sekelumit cuplikan dari buku karya Darwin yang paling ngehits berjudul the Origin of Species. Yah,sayang bukunya hanya di pajang di etalase, coba boleh dipinjam dan dibawa pulang....I’d love to read this masterpiece.
Buku The Origin of Species
Banyak sekali pengetahuan dan cakrawala baru yang bisa diperoleh dengan mengunjungi museum. Cuman sayang selama ini museum sering dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai tempat penyimpanan benda mati belaka. Apalagi bangunannya kuno dan kurang perawatan sehingga kita malas meliriknya. Namun dengan bangunan baru yang dirancang cukup menarik diatas bukit, museum Sangiran menjadi salah satu destinasi yang layak dikunjungi khususnya bagi pecinta pra sejarah. Tak hanya museum Sangiran aja yang berada di kawasan situs Sangiran tapi sekali jalan kita bisa mengunjungi museum Bukuran dan Dayu yang menyimpan koleksi benda purbakala lainnya.